Nama Tionghoa

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Nama Tionghoa biasanya terdiri dari 2 karakter sampai 4 karakter, walaupun ada yang lebih dari 4 karakter, tetapi umumnya nama seperti itu adalah mengambil terjemahan dari bahasa lain sehingga tidak dianggap sebagai nama Tionghoa.

Nama Tionghoa mengandung marga dan nama. Marga Tionghoa diletakkan di depan nama, biasan ya 1 sampai 2 karakter; nama mengikuti marga.

Di zaman dahulu, menurut catatan literatur kuno ada peraturan bahwa nama seorang anak biasanya baru akan ditetapkan 3 bulan setelah kelahirannya. Namun pada praktiknya, banyak yang memberikan nama sebulan setelah kelahiran sang anak, bahkan ada yang baru diberikan setahun setelahnya. Juga ada yang telah menetapkan nama terlebih dahulu sebelum kelahiran sang anak.

Di zaman Dinasti Shang, orang-orang masih menggunakan nama dengan 1 karakter. Ini dikarenakan mereka belum mengenal marga dan juga karena jumlah penduduk yang tidak banyak.

Sebelum zaman Dinasti Han, biasanya nama Tionghoa hanya terdiri dari 2 karakter yang terdiri dari 1 karakter marga dan 1 karakter nama. Namun setelah Dinasti Han, orang-orang mulai memiliki sebuah nama lengkap yang terdiri dari 3 karakter (1 karakter marga dan 2 karakter nama pribadi - yang terdiri dari 1 karakter nama generasi dan 1 karakter nama diri) selain daripada nama resmi mereka yang 2 karakter itu.

Di zaman Dinasti Jin, orang-orang baru memakai nama dengan 3 karakter seperti yang kita kenal sekarang.

Nama menjadi sebuah hal yang penting bagi seseorang dipengaruhi oleh pemikiran Konfusius tentang pentingnya penamaan bagi penonjolan karakter seseorang.

Pada kasus-kasus yang sangat langka, seseorang dapat memiliki nama dengan lebih dari tiga karakter:

Di dalam nama dengan 3 karakter, biasanya kita mengenal adanya nama generasi. Nama yang mengandung nama generasi adalah 1 karakter marga, 1 karakter generasi dan 1 karakter nama. Pada tingkatan generasi yang sama dalam satu keluarga besar biasanya memiliki nama generasi yang sama.

Nama generasi ditetapkan oleh leluhur dengan mengambil sebuah puisi atau bait di dalamnya untuk penamaan generasi turun-temurun. Biasanya sebuah puisi berisikan 16, 20 atau bahkan 24 karakter buat 16, 20 atau 24 generasi ke bawah. Sampai generasi ke-17, 21 atau 25, nama generasi akan dimulai kembali dari karakter generasi pertama.

Nama generasi ini tidak lazim digunakan di semua keluarga karena biasanya hal seperti ini merupakan monopoli orang terpelajar. Karena pendidikan tidak umum bagi rakyat biasa pada zaman dulu di Tiongkok, maka banyak pula keluarga yang tidak menggunakan nama generasi dalam pemberian nama.

Suku Tionghoa-Indonesia sebelum zaman Orde Baru rata-rata masih memiliki nama Tionghoa dengan 3 suku kata. Walaupun seseorang Tionghoa di Indonesia tidak mengenal aksara Han, tetapi biasanya nama Tionghoa di Indonesia tetap diberikan dengan cara romanisasi. Karena mayoritas orang Tionghoa di Indonesia adalah pendatang dari Hokkien, maka nama-nama Tionghoa berdialek Hokkien lebih lazim daripada dialek-dialek lainnya.

Banyak nama yang diindonesiakan adalah suku kata nama belakang Hokkien dengan imbuhan Barat atau Indonesia yang menghasilkan banyak nama yang terdengar eksotis. Meskipun dua orang Tionghoa memiliki nama keluarga Tionghoa yang sama, mereka bisa memiliki nama Indonesia yang berbeda. Misalnya, seseorang dengan nama belakang "林" (Mandarin: Lin, Kanton: Lam atau Lum, Hokkien: Liem atau Lim = hutan) dapat mengadopsi "Limanto", dan yang lainnya dapat menggunakan "Halim" sebagai nama yang terdengar Indonesia. Aktivis politik dan pengusaha terkenal Sofjan Wanandi (Liem Bian Koen)[2] menerjemahkan Lin ke dalam bahasa Jawa kuno "wana" dan menambahkan imbuhan laki-laki "ndi", menghasilkan nama marga baru Wanandi.[3]

Di zaman Orde Baru, di bawah pemerintahan Soeharto, warganegara Indonesia keturunan Tionghoa dianjurkan untuk mengindonesiakan nama Tionghoa mereka dalam arti mengambil sebuah nama Indonesia secara resmi. Misalnya Liem Sioe Liong diubah menjadi Soedono Salim. Walaupun demikian, di dalam acara kekeluargaan, nama Tionghoa masih sering digunakan; sedangkan nama Indonesia digunakan untuk keperluan surat-menyurat resmi.

Namun sebenarnya, ini tidak diharuskan karena tidak pernah ditetapkan sebagai undang-undang dan peraturan yang mengikat. Hanya tarik-menarik antara pendukung teori asimilasi dan teori integrasi wajar di kalangan Tionghoa sendiri yang menjadikan anjuran ini dipolitisir sedemikian rupa. Anjuran ganti nama tersebut muncul karena ketegangan hubungan Republik Rakyat Tiongkok dengan Indonesia setelah peristiwa G30S. Tahun 1966, Ketua Lembaga Pembinaan Kesatuan Bangsa (LPKB), Kristoforus Sindhunata menyerukan penggantian nama orang-orang Tionghoa demi pembangunan karakter dan nasionalisme bangsa.[4] Anjuran ganti nama paling keras disuarakan di Jawa, sehingga mereka yang paling merasakan perubahan identitas.[5]

Seruan ini mendapat kecaman dari kalangan orang Tionghoa sendiri dan cemoohan dari kalangan anti-Tionghoa. Yap Thiam Hien secara terbuka menyatakan bahwa nama tidak dapat menjadi ukuran nasionalisme seseorang dan ini juga yang menyebabkan nasionalis terkemuka Indonesia itu tidak mengubah namanya sampai akhir hayatnya. Cemoohan datang dari KAMI dan KAPPI yang pada waktu itu mengumandangkan nada-nada anti-Tionghoa yang menyatakan bahwa ganti nama tidak akan mengganti otak orang Tionghoa serta menyerukan pemulangan seluruh orang Tionghoa berkewarganegaraan RRT di Indonesia ke negara leluhurnya.[4]

Ganti nama ini memang merupakan satu kontroversi karena tidak ada kaitan antara pembangunan karakter dan nasionalisme bangsa dengan nama seseorang, juga karena tidak ada sebuah nama yang merupakan nama Indonesia asli.[oleh siapa?]

Hingga saat ini, beberapa orang Tionghoa enggan menggunakan nama Tionghoanya karena khawatir dengan isu SARA dan kebiasaan masa Orde Baru. Masih sedikit sekali nama-nama asli Tionghoa yang tertera di KTP.[6]

Daftar ini diurutkan berdasarkan pinyin. Tabel ini hanya mencakup ejaan berdasarkan Ejaan Yang Disempurnakan. Nama keluarga di kehidupan nyata mungkin menggunakan sistem ejaan yang ketinggalan jaman seperti Ejaan Van Ophuijsen. Variasi nama keluarga yang terdengar Indonesia ditandai dengan tanda kurung.

Hanzi dan pinyin Hokkien dan Tiociu Kanton Hakka Hindia Belanda Indonesia (Ān) An, Ang, Oan, Uan On On An, Ngon Andi, Andre, Andrea, Andrean, Andreas, Andrei, Andrew, Anindita, Anita, Anna, Hadi,[7] Rahman, Vandros (Bái, Bó) Beh, Peeh, Peh, Pek, Piak Baak, Bak Phak Pee, Peh, Pek Fatimah,[8] Purnomo,[9] Wongsorejo[7] 鮑 (Bào) Bao, Pâu Baau, Bau Pau Pou, Pouw Bauseno, Paulus, Pauwanto, Pouwardiman, Pouwin, Pualam, Purnama, Sastrajaya[7] (Bèi) Bue, Bui, Poe Boi, Bui Bi, Pi Pui Sudarto[10] (Cài) Chhai, Chhoa, Cua Coi, Toi Chhai Tjai, Tjhoi, Tjoa, Tsai Anthony,[9] Budianto,[10] Ceha,[8] Coa,[7] Cuaca,[9] Effendy,[9] Halim,[7] Harjamulya,[8] Irman,[10] Manansang,[7] Muliawan,[10] Satyawardaya,[7] Sudin,[7] Sujono,[9] Sulaiman,[8] Surya,[10] Suwatan, Tirtakusuma,[10] Wonowijoyo[7] (Cáo) Cao, Cho Cou, Tau Chho Djau, Jau, Jauw, Tjo, Tjou Jasa,[9] Lakasamana,[9] Sarana,[10] Susanto[10] (Cháng) Siang, Sien, Sion, Siong, Siun Siang, Soeng Song - Kristian[9] (Chén) Cing, Dang, Ding, Tan, Tin, Ting Can, Cin Chhun Chan, Chen, Tan, Tjan, Tjhin Adil,[8] Amin,[7] Ananta,[7] Buana,[8] Buasan,[7] Budianta,[7] Budiman,[8] Chandinegara,[7] Chandra,[8] Chandinegara,[7] Chendriadi, Cula,[8] Dananjaya,[7] Darmawan,[7] Gunawan,[9] Harjosusilo,[8] Hartanto, Hartanu, Haryono,[8] Hasan,[7] Hertanto, Irtanto,[9] Iskandar,[7] Ismanto,[7] Kartajaya,[7] Kartanegara,[7] Karyadi,[8] Kynan,[9] Lolita[9], Lukman,[10] Marwoto,[8] Mawira,[8] Mulyono,[10] Pitoby,[10] Pohan,[9] Prawoto,[8] Raharja,[7] Robida,[9] Santo, Satyadiningrat,[7] Setiabudi,[7] Setianto,[8] Setyodiningrat,[8] Suhartono[9], Sukowiyono,[7] Sumanto,[7] Sumantri,[10] Sumardi,[9] Susanto,[9] Susastro,[11] Sutanto,[12] Sutanu,[7] Sutiarto,[10] Sutyanto,[7] Tabaluyan,[8] Tanadi, Tanaja, Tanaka, Tanamal, Tanandar, Tanara, Tandi,[9] Tandiari,[9] Tandiono,[7] Tandoko, Tandubuana, Tandyawasesa, Tanlain, [10] Tanojo, Tanoto,[7] Tansil,[13] Tanta,[9] Tanzil,[9] Tanubrata, Tanudisastro, Tanujaya,[8][7] Tanumiharja, Tanusaputra, Tanuseputra, Tanuseputro, Tanusudibyo,[7] Tanuwibowo,[10] Tanuwijaya, Taslim,[14] Thamrin,[10] Viriyanto,[9] Wijaya,[8] Winata,[10] Winarta,[7] Wiryaprawira, Wiryoprawiro, Young[7] (Chéng) Teng, Thee, Theng, Thian, Tian Cing Chhang Sjiung, Thia, Tjing Ali,[9] Chengadi, Sengani, Sundari (Chéng) Chhian, Chian, Cian, Sian, Seng, Zian Cing, Sen, Seng, Siang, Sing Sang, Sun (Cūi) Chhui, Cui Ceoi Chhui, Cui - Faustine[9] (Dài) Dai, Di, Do, Tai, Te, Ter, Ti Ai, Daai Tai Thee Kinarto,[9] Patros,[7] Teja,[10] Teriandy,[9] Thomas[9] (Dīng) Deng, Teng Ding, En Ten Teng, Ting, Tieng Ateng, Tenggara, Tengger, Tranggono (Dèng) Deng, Teng Ang, Daang Then Tang, Then, Thien Dengah, Tengger, Tengker (Dǒng) Dang, Dong, Tang, Tong Dung Dung, Tung Tang Lintang[9] (Dù) Dou, To Dou, U Tu, Thu Dhoe Basri[9] (Fàn) Hoan, Huam, Huang Faan Fam Hoan, Hwan Famita, Fandi, Fandy, Fani, Handoko, Hoanike, Hoanita, Hoanoto, Van, Vandi (Fāng) Bang, Beng, Bung, Hng, Hong, Huang, Pang, Png, Puin Fong Fong Peng, Poei, Poey, Poeng Frans,[9] Pribadi, Prihandi, Pujiadi (Fáng) Bang, Hong, Pang, Phong, Pong Fong Fong, Piong - Yulia[9] (Féng) Bang, Hong, Pang Fung, Fuung Phung Hoeng, Phang, Tjung Arif,[7] Cung, Effendi,[8] Hongki, Pangestu,[7] Panglaykim,[7] Priyatna, Priyo, Priyono, Wiliadinata[10] (Fú) Hu Fu Fu, Phu Hoe Hussy[9] (Fù) Bou, Hu, Po Fu Fu Poh Irawan,[7] Priyatna[10] (Gān) Gam, Kam, Kan Gam Kam Gam Prayetno[9] (Gāo) Gao, Go, Kau, Ko Gau, Gou Ko Kho, Ko, Kouw Koco,[8] Kosasih,[8] Saleh[7] (Gǔ) Khoe, Koo Khu, Ku Hioe, Hiu Kho, Koe, Koo Hendarta,[10] Iskandar,[9] Kumala,[9] Kusno,[10] Nawing,[9] Suripto[8] (Guān) Guang, Guen, Gueng, Koan, Koen, Kuin Gan, Gwaan Guan, Koan Khoan Johan,[9] Karlam,[10] Kasman,[10] Kosasih,[9] Raharjo[10] (Guō) Guag, Gueh, Keh, Kerh, Koeh, Kok Gwok, Kok Kok Oe, Koe, Kwee, Kwik, Kwok, Tjoa Cokrosaputro,[8][7] Darmawan,[9] Gunadarma, Gunawan,[8][7] Kartawiharja, Kartono, Karwandi, Kasigit,[8] Kumala,[8] Kuncara, Kuncoro, Kurnia,[8] Kurniawan, Kusmita,[8] Kusnadi,[8] Kusuma,[7] Kusumaningrum, Kusumawijaya, Mintarjo,[8] Paramitha,[8] Prasetyo,[8] Santoso,[8] Situwanda,[9] Somadi,[8] Susanto,[8] Valentina,[9] Winata[7] (Hán) Han, Hang Hon Hon Han Burhan, Halen, Handaya, Handayana, Handayani, Handoko, Handoyo, Hanggar, Hanjoyo, Hans, Hantoro, Johan, Johana, Johanes, Jonas, Juan, Pernollo,[8] Suhandi, Suhandri, Suhanto, Suhantoro (Hé) Ho, Oa Ho Ho Ho, Kok, Hoo Halen, Hans, Hartono, Hayes, Hendra,[8] Hendri, Hendriawan, Hendry, Hengky, Heredero, Herho, Herman, Hermawan, Hermes, Hermosa, Hernales, Hernandez, Herrera, Herz, Honarto, Honolario, Honoris,[7] Horten, Hortensia, Hosea,[9] Nugroho,[8] Setiawan[7], Wijaya[9] (Hè) Ho Ho Fo, Ho - Martinus[9] (Hóng) Ang, Hong Hung Fung Ang, Hoeng Aang,[8] Angga, Anggakusuma, Anggara, Anggawarsito, Anggawirya, Anggi, Anggoro, Anggraeni, Anggraini, Anggrianto, Anggriawan, Angkadireja, Angkang, Angkasa, Angkiat, Angkouw, Angryanto, Angsana, Arbi,[8] Budiman, Dharsono,[10] Rahmat,[10] Suryaatmaja,[8] Suryadi,[7] Sutarti,[9] Tahir,[15] Wahyudi,[8] Wardhana[8] (Hòu) Hao, Hau, Hio, Ho Hau Heu - Minarto[10] (Hú) Ho, Hu, O, Ou Vu, Wu Fu Auw Harsono,[7] Husino,[7] Syarifudin[9] (Huáng) Hong, Ng, Ui Wong, Vong Vong Bong, Oei, Oey, Oi, Wong Alianto,[9] Atmawijaya, Atmawirya, Darmawan,[7] Fajrin,[7] Hartono,[16] Hutomo, Jingga, Kaliana,[7] Karim,[7] Kariman,[7] Marching,[7] Osteven,[10] Permatasari,[9] Rahmat,[8] Ridwan,[7] Sabu,[9] Sanjaya,[7] Secadiningrat,[8] Setiawan,[7] Sia,[8] Sugianto,[10] Sumanto,[7] Sumawi,[9] Supratikno,[7] Syarif,[10] Tumenggung,[8] Uray,[7] Usman,[10] Wahidin,[10] Wahyudi,[9] Wantah,[10] Wibawa, Wibisono,[7] Wibowo,[10] Wicaksana, Wicaksono, Widiyono,[8] Widyaningrat,[8] Widyono,[7] Wiguna,[8] Wiharja,[8] Wijaya,[7] Wijayakusuma,[9] Wikarso,[9] Winata, Winatan, Winda, Windi, Windra, Winoto, Wiraatmaja, Wiranata, Wiranto, Wirawan, Wirya, Wiryanto, Wiryo, Wiyadi,[9] Wiyonarko, Wiyono, Wullur

Wirawan, Wirya, Wiryanto, Wiryo, Wiryono, Wisanto, Witarya, Witular, Wiyanarko, Wiyonarko, Wiyono, Wullur[7]

霍 (Huò) Hok Fok Vok Fok Darmadi[8] (Jǐ) Gi, Ki Geik Ki Tjie, Tjhie Barki,[7] Hadinata[17] (Jiāng) Gang, Kang Gong Kong Tjiang, Kong Konjaya,[9] Murni,[9] Sutomo,[8] Yahya[10] (Jīn) Gim, Ging, Kem, Kim Gam, Gim Kim Keh, Tjing Kencanawati[8] (Kē) Gua, Kho, Ko, Koa O Kho Kwa Hutomo,[7] Secakusuma,[8] Utomo[7] (Kuàng) Kong, Kuang - Fong, Kwong Kuang Kondoh,[9] Kongdoro,[9] Mulya[10] (Lài/Lay) Lai, Lay, Loa, Lua, Nai, Noa Lai, Lay Lai, Lay Lai, Lay, Loh, Lua Laiherman, Laimena, Lainera, Lais, Laiyar, Lasuki, Layaro, Laynes, Layzaro, Lohanda,[7] Rasidin,[9] Sasmita,[9] Setiadi[10] 蘭 (Lán) Lan, Lang Laan Lan Lan Lanny[8] (Lí) Le, Li, Loi Lai Lai, Li - Layendra[9] (Lǐ) Li Lei Li Lee, Li, Lie Adidarma,[8] Ali,[7] Aliwarga, Boddhihiya,[8] Cahyo,[8] Darma,[7] Dipojuwono,[7] Elly,[9] Gozeli,[7] Gunawan,[7] Hakim,[10] Julianto, Kartikahadi,[8] Koty,[9] Kusumo,[10] Ledesma, Lehmann, Leman, Leonardo, Leviste, Lianto, Liawan, Libiran, Licharlie, Licindo, Lidarta, Lieus,[8] Lika,[10] Likhwan,[9] Limanto, Linardi, Linata, Lince, Liow, Listianto, Listiohadi, Listiono, Lisye, Litelnoni,[7] Liyanto,[7] Liyono, Lyman,[7] Mahatirta,[10] Meirobi,[9] Mulyadi,[9] Pujianto,[8] Ramali, Ramli, Riady,[7] Romuli, Rusli,[10] Sadeli,[7] Sarumaha,[9] Sujatmiko,[7] Suparmin,[10] Suryono,[7] Suwondo,[7] Wahyadiyatmika,[9] Winarko,[9] Wiraatmaja,[8] Wuisan,[7] Yahya[8] (Lián) Hian, Len, Liam, Lian, Liang, Lieng Len, Lin Lien Lem Lembang[10], Lembong[9] 樑, 梁

(Liáng)

Liang, Liong, Nien, No, Nion, Niu Liang, Loeng Liong Liang, Nio, Niouw Arif,[7] Dewi,[7] Graha,[9] Irawan,[9] Kurniawan,[18] Liando, Liangani, Nagaria,[10] Neolan, Neonardi, Nurjaman, Nurtani,[9] Santosa,[7] Santoso[9] 廖, 遼 (Liáo) Liao, Liau, Liou Liau, Liu Liau Liauw Arfandy,[10] Leo,[10] Maulana,[9] Susanto[10] (Lín) Lem, Lim, Na, Nan Lam, Lim, Lem Lim Lim, Liem Abubakar,[9] Alim,[7] Benly,[9] Budiharjo,[9] Chandra,[9] Chondrowajoyo,[10] Djuhar,[19] Durianto,[7] Halim,[7] Harkata,[8] Herlambang,[9] Hidayat,[8] Jaya,[7] Juhar,[7] Kalona,[8] Kamil,[7] Karya,[7] Laksana, Laksmana, Laksono, Lambina, Lammar, Lamsana, Lanandi, Lantera, Lantiko, Lemarga, Lembata, Lemonon, Liam, Liamarta, Liamarto, Liamono, Liman, Limanjaya Limantara, Limanto, Limantoro, Limanus, Limardi, Limarjo, Limasi,[9] Limawan, Limbara, Limena, Limengan, Limintang, Limiyanto, Limpo, Lina, Linanto, Linda,[9] Linnas, Linus, Lumakso, Lumbao, Lumberta, Lumbo, Malik,[8] Matius,[20] Mulyadi,[8] Nurimba,[7] Nursalim, Pribadi,[8] Raharja,[7] Ruslim, Salim,[7] Sampurna,[7] Setyadi,[8] Sidhunata,[8] Subrata,[9] Sugiarto,[7] Sugiharto,[9] Sujatmiko,[7] Sulistio,[9] Sumitomo,[9] Sunasto,[8] Surya,[8] Suryana,[10] Susanto,[8] Sutanto,[8] Taslim, Waworuntu,[10] Wijaya,[21] Witarsa,[7] Yanto[8] (Líng) Leng Ling Leng Lin Thamlin[10] (Liú) Lao, Lau, Liu Lau, Liu Liu Lauw, Law, Lieu, Liew Fernardo,[9] Hanafi,[8] Kabulloh,[10] Karyadi,[8] Lauwani,[7] Leo,[9] Lukito,[8] Meilinda,[14] Nuralan,[10] Pahlawan, Pranoto,[9] Rosadi,[8] Wijaya,[7] Yahya[7], Yanty[9] (Lóu) Lau, Lio, Lo Lau, Leu Leu - Antonius[9] (Lú) Lo, Lou, Lu Lou, Lu Lu - Wijaya[9] (Lǚ) Le, Li, Lir, Lu Leoi, Lui Li Loe, Lu Hamzah,[10] Lukita,[7] Lukito,[8] Tirtakusuma[9] (Lù) Lak, Leg, Liok, Log, Lok Luk, Luuk Liuk Loek, Luk Lukas, Luki, Lukita, Lukito,[8] Lukman, Lukmantara, Lukmanto, Lukmantoro, Lumantau, Lumenta, Lumoindong, Lumowa, Lusanto, Luwiharto[8] (Luó) Lo Lo Lo Loh Kartolo, Lukman,[9] Lumampau,[9][14] Susilo,[10] Walujo (Mǎ) Be, Bee, Bhe, Ma Ma, Maa Ma Be, Mah Ahmad, Amu, Aoki, Bay, Kimura, Kuroki, Mac, Machado, Mae, Maghan, Magnus, Mahany, Maher, Maheux, Mahfud, Mahfuz, Mahmud, Mahmudin, Mahood, Mai, Makarim, Makhdum, Maki, Maku, Malamud, Malaret, Mamo, Mamoto, Mamu, Mamuaja, Mamud, Mamusung, Manguni, Manoj, Manu,[7] Mappa, Mapother, Margrethe, Mari, Marie, Marina, Mario, Mark, Mars, Martel, Martin, Mas'ud, Matilda, Matsu, Maud, Maxim, May, Maya, Mayumi, Mehmed, Moen, Monroe, Moon, Moran, More, Morgan, Mori, Moses, Mozart, Muchtar, Muhammad, Pangestu, Sasaki, Sulendro,[7] Wijaya,[7] Umar, Yuki (Mài) Beeh, Beh, Bek, Bheh, Biak Maak, Mak Mag, Mak Syukur[9] (Mò) Boh, Bok, Mog Mok Mok Bok, Moh, Mok Mocktar[7] (Ní) Ge, Ghoi, Ngi Ngai Nga - Hidrayat[9] 歐陽

(Ōuyáng)

Aoiang, Auiang, Auiong, Oiong Aujeong Euyong Auwjong, Ewjong, Ojong Oyong, Sidharta[8] (Pān) Phoan, Phun, Puan, Pung Pun Phan Phan, Phoan, Poen Bunardi,[9] Pribadi,[8] Suprana,[7] Wisaksana,[7] Trenggono[9] (Péng) Pen, Phen, Pheng, Phi Paang, Pang Phang Phang, Phe Narthavirosa,[9] Pangestu,[7] Pitrajaya[9] (Qín) Chin, Cing Ceon, Tun Chhin, Qin Tjin Mardanus[10] (Qiū) Khiu, Khu, Kiu, Ku Hiu, Jau Hiu Kauw, Khoe, Khew Chundra, Cinora,[9] Hendra,[10] Husen,[9] Khusniaty,[10] Kokoh,[9] Kosasih,[7] Kurniawati,[14] Kusumawan,[9] Sasanasurya,[7] Sudarmono,[9] Surya,[10] Tirtawinata[8] (Quán) Cuang, Cueng, Chng, Choan, Chuin Cyun, Tun Chhion Kwan Kuanna (Ráo) Jiau, Liau, Riao Jiu Ngieu Djiauw, Jauw, Nyao, Nyauw Admajaya,[8][7] Harjono,[8] Jayadarta, Jayadi, Johari (Róng) Iong Jung, Yuung Yung Joeng Budiono[10] (Shěn/Sim) Sim Sim, Sam Sim, Sum Sim, Siem Simargi, Sumargo, Budiharjo, Hasim,[9] Islamy,[8] Kasiman, Rochimat,[9] Susanti,[9] Yusuf[7] (Shī) Si, Soa Si Su Sie, Siek Cahyadi,[7] Lesmana,[7] Notowijoyo,[7] Sanusi,[9] Siswanto (Shí) Chioh, Sek, Set, Sia, Siak, Zieh, Zioh Sek, Siak Sag, Sak - Seinal[9] (Shǐ) Sai, Se, Si, Sir, Su Lhu, Si Su Soe Budiman,[22] Seinal,[9] Sutrawan[7] 司徒 (Sītú) Situ, Sirto, Suto Lhuhu, Sitou Suthu Soeto Lutansieto, Seto, Sieto, Suhuyanli, Suhuyanly, Suto,[7] Yosieto (Sū) So, Sou Lhu, Sou Su Soe, Su Anastasia,[9] Budiarso,[8] Soberano, Soledad, Solihin, Soriano, Sosrojoyo,[8] Sotto, Suan, Sudarto[8], Suganda, Sugihartanto, Suhadi, Suhandinata,[8] Sukojo, Sunardi, Surya, Suryo, Susanto,[9] Sutianto, Suwandi, Suwarno, (Sūn) Seng, Sng, Suin, Sun, Sung Lhun, Syun Sun Soen, Sun Anthony, Salvatore, Santo, Singh, Suan, Suen, Sunak, Sunardi, Sunarto, Sundara, Sundari, Sundoro, Sunjoyo, Sunny, Sunur,[7] Suwandi, Suwandito, Suwendi, Tony, Wijaya[7], William (Tán) Tam, Tan, Tham Ham, Taam Tam, Tham Ham Hamdani[10] (Táng) Deng, Tang, Thang, Tng, Tong Hong, Tong Thong Teng, Thong, Tong Bintang, Lintang, Lumintang, Motet,[8] Tenggara[9] (Tāng) Teng, Thng, Thong Hong, Tong Thong Thung Jackson,[8] Haliman,[10] Tirtawijaya[7] (Téng) Teng, Tang Thin Thang, Theng Hardi,[9] Nangoi,[8] Tangkau,[9] Teguh, Temenggung, Tendean, Tengadi, Tengagung, Tenggara, Tenggeli, Tengker, Tengwidjaya (Tián) Tian, Tiang, Tieng Hen, Tin Tien, Thien Thien Setiandi[10] (Tú) To, Tho, Tu, Tou Tou - Tho Thosatria[9] (Wāng) Ong, Uang Wong Vong Ang, Hong, Ong, Wang, Wong Am,[8] Bunandi,[9] Darmadi,[8] Darmansyah,[8] Dharmawangsa, Enggano, Esmara,[7] Gosal,[9] Hamid,[7] Haditono,[23] Himawan,[7] Husni,[7] Kurniawan,[10] Lembong,[7] Mranata,[10] Ongko,[8] Ongkowijaya, Pranata, Raja, Rahmanata,[7] Rusli,[8] Sasongko, Setiawan,[8] Sindhunatha,[7]Surianto,[10] Surya,[8] Susanti,[7] Sutyanto, Suwandi,[8] Wangsa, Waskito, Wijaya,[8] Wiranata,[7] Wongkar, Wongso,[8] Wongsoseputra[7], Wongsowinoto[9] (Wáng) Heng, Ng, Ong, Uang Vong, Wong Vong (Wèi) Ghui, Gui, Ngui Ngai Ngui Goei, Goey, Gui, Ngoei, Wei Anton,[7] Budikusuma,[7] Elka,[9] Gunardi,[9] Gunawan,[8] Hartono,[10] Wijaya, Wiratama[7] (Wēn) Un, Ung Vun, Wan Vun Boen, Oen, Wen, Woen Budiman,[8] Budiono, Bunaidi, Bunawan, Bunda, Buntara,[9] Darmohusodo,[7] Elkana,[8] Gunawan, Knowles, Kuncoro, Lukman,[10] Setiawan,[8] Sulaksono,[8] Suwandi,[8] Suwargana,[8] Untung, Utomo,[7] Wenarto, Wenas, Wendi, Winans, 烏, 鄔 (Wū) O͘, Ou, U Wu Vu Go, Goh, Gouw, Ng, Wou, Wu Angkosubroto,[7] Dirgagunarsa,[8] Ganjar,[8] Gautama,[8] Geniusaharja,[10] Gomarga,[8] Gondasetra,[8] Gondokusumo,[8] Gondowijoyo,[8] Gono, Gossidhy, Gotama, Govino, Gozal,[10] Gozali,[7] Gunadi, Gunarsa,[7] Gunawan,[8] Halim,[9] Harjonagoro,[7] Hartono,[10] Husien,[10] Japri,[14] Kusuma,[7] Lunandi,[7] Masrini,[8] Nadesul,[8] Purnomo,[8] Prayogo, Setiady,[9] Subroto,[8] Sudargo,[10] Sudirgo, Sugondo, Sumargo, Suryo,[24] Susanto,[10] Sutedy,[10] Unggul,[9] Utama, Widargo, Wurianto, Yoga (Wú) Ghou, Go, Ngo M, Ng Ng 伍, 仵 (Wǔ) Go, Ngo, Ngou M, Ng Ng (Wǔ) Bhu, Bu Mou, Mu Vu (Xiāo) Siao, Siau, Sio, Siou Lhiau, Siu Seu Siauw, Sieuw Guinata,[9] Saputra,[9] Sugiharto,[9] Suwahyu,[10] Swastika[8] (Xiè) Chia, Sia, Zia Die, Ze Chhia Tjia, Tjhia, Tjie Cahyadi, Cahyono,[8] Chandra, Chia, Chiasmanto, Ciawi, Gunawan,[8] Hidayat,[8] Indriatno,[8] Jaya,[8] Sakti,[10] Setiawan,[10] Siady,[9] Suryajaya,[7] Syahputra, Siahaya, Sukri,[9] Syarif, Syaril[10] (Xìng) Heng Hang Hen - Husada[9] (Xióng) Him, Hing, Hiong Hung Yung Siong, Sjong Hartono,[10] Yusuf[8] (Xú) Ce, Chhi, Si, Sir, Su Ceoi, Tui Chhì Djie, Tjie Bunarso,[10] Ciputra,[25] Dharmajie, Hartawan,[10] Jimantoro, Pujiati, Santosa,[10] Tilaar,[7] Widodo (Xǔ) He, Hi, Hir, Hu, Kho, Khu, Kou Heoi, Hui Hi Hie, Kho, Khouw, Kow, Tji Darmono,[10] Hakim,[7] Hamdani,[9] Kahono,[8] Karmawan,[7] Kartika,[8] Kosasih,[14] Kumarga,[8] Kusno,[8] Mulyadi,[7] Permana,[9] Setiawan,[8] Setiono,[7] Srimulat,[7] Sukowati,[8] Sulaiman,[10] Sulendro,[8] Sunarko,[8] Suripto[7] (Xuē) Siat, Sih Sit Siet Sie Sidharta,[7] Wilamarta[10] (Yán) Giam, Iam, Ngiam Jim Ngiam Gan, Ian, Ien Gani,[8] Hartono[9] (Yán) Gan, Hian, Ngang, Nguang, Ngueng Ngaan, Ngan Ngian, Ngien (Yáng) Chhion, Chhiu, Chiiun, Iang, Ien, Ion, Iong, Iun, Yeoh Joeng, Yiang Yong Jo, Jouw, Njoo, Nyoo, Yeo, Yoe Anwar,[8] Dharmanandi,[9] Inyo,[7] Irawady,[10] Johan,[9] Juwono, Kasman,[10] Kusbianto,[8] Mulyoto,[26] Naga,[7] Nyoto, Renata,[27] Sanyoto,[8] Senjaya,[10] Setyadi,[10] Sudarso,[9] Sudhamek,[10] Sugondo,[10] Sukandinata,[10] Sunyoto,[9] Suryani,[9] Suryawan,[7] Sutaryo, Tambayong, Tannos,[7] Tirta,[10] Wiharjo,[10] Yangmulyoto, Yohan,[9] Yongki, Yorensin, Yoso, Yudha, Yuwana (Yáo) Iau, Ie, Io Jiu Yeu Iau, Jauw, Jaouw Handoko,[10] Jayanto,[10] Yuswanto, Yaosono (Yè) Iab, Iag, Iap Jip, Yiap Yap Jap, Jip, Yap, Yip Effendi,[9] Haryanto,[9] Hendrawan,[8] Husodo,[8] Joyo,[9] Laksana,[7] Meliana,[9] Riand,[9] Prananto,[9] Prawirohusodo,[7] Wijaya,[8] Suparno,[10] Supit,[8] Yananto,[8] Yappy,[9] Yaputra,[7] Yektiurip, Yipman (Yì) Eg, Ek, Iah, Iak Jik, Yet Yit - Rahmani[9] (Yóu) Iu Jau Yu Yoe, Yoo Buntoro,[8] Hartoyo, Yalung, Yovita, Yovito, Yukatan, Yusuf,[8] Yuwono[8] 游 (Yóu) Iu Jau, Yiu Yu (Yú) E, I, Ir, U Jyu, Yi Yi Jie Halim,[10] Jita,[9] Sumbaji[10], Susanto[9], Sutarji[9] (Yú) Ju, Lu Jyu Yi Ie, Joe Dawis,[7] Irawan,[8] Lukito,[28] Suji[9] (Zēng) Chan, Cheng, Chng, Zang, Zeng Dang, Zeng Chen Chan, Tjan, Tjen, Tjin Chandra,[10] Chandrakusuma,[8] Chandrawinata,[29] Negara,[9] Silalahi,[7] Sudharmono[10] (Zhān) Chiam, Ziam Zim Cham Tjam Chamar, Chandra, Chiampea, Jimakta, Jimerto (Zhāng) Tiang, Tiaun, Tiong, Tion, Tiun, Ziang Ziang, Zoeng Chong Teh, Thio, Tjang, Tjong Chandra,[8] Chandradinata,[9] Hidayat,[10] Irawan,[8] Jaya,[9] Johan,[7] Kuswati,[9] Mukianto,[9] Pambudi,[9] Prasetya, Prasetyo, Sajiono,[9] Sanusi,[9] Setio,[9] Sudarso,[30] Sujino,[10] Sulistiyo,[10] Tyos,[9] Wijayakusuma[7] (Zhèng) Den, Teng, Ten, Tin Zeng, Ziang Chhang The, Tjeng Budiono,[9] Darmaputra,[7] Hasan,[7] Idris,[8] Jinarakhita,[7] Kharisma,[10] Liyanti,[14] Menaro,[8] Nusantara,[10] Sufida,[10] Tahyar,[7] Teddy, Tejokumoro, Tedyono, Teja, Tejakusmana, Tejamulia, Tejarukmana, Tejawati, Tejokumoro, Tejosuwito[7] (Zhōng) Cheng, Chiong, Zeng Zung, Zuung Chung Chung, Tjoeng Arsajaya,[7] Chandra,[9] Cundiawan, Cungandi, Cungkoro, Hadijaya,[8] Thamrin,[8] Theodora,[9] Purnama[31] (Zhōu) Chiu, Ziu Zau, Ziu Chu Tjioe Cahyadin,[10] Ciwijaya,[9] Cuanda, Gimin,[10] Frans,[9] Hartanto,[9] Johari, Jowarsa, Juanda, Juandi, Juano, Kusumanegara,[8] Mulyono,[8] Surikin,[10] Trismitro[8] (Zhū) Chu, Zu Zi, Zyu Chu Tjoe Joyonegoro,[8][7] Jugito, Jumena, Juwinata, Sutrisno,[7] Yusuf[10], Zulfikar, Zulfikri, Zuneng (Zhuó) Doh, Toh, Tok Coek, Zoek Chok - Harsono[9] (Zhuāng) Chng, Choang, Chon, Chong, Zang, Zeng, Zuang Zong Chong Tjuang, Tjung Dozan,[32] Juanda,[33] Juandi[10] (Zōu) Chau, Zou Zau Cheu Poo, Tjouw Murdaya[7]

Sekarang ini, biasanya untuk memudahkan orang yang memiliki nama Tionghoa juga memiliki romanisasi dari lafal nama Tionghoa mereka ataupun memiliki nama Barat. Sistem romanisasi yang paling baku dan paling banyak digunakan sekarang ini adalah sistem Hanyu Pinyin. Tata cara penulisan nama Tionghoa dalam bentuk romanisasi yang paling sering digunakan saat ini adalah dengan memisahkan antara suku-kata marga dan nama.

Ada pula penulisan dengan tata cara penulisan nama Barat, di mana nama pemberian ditulis terlebih dahulu dan nama keluarga mengikuti di belakang. Nama keluarga di Barat dapat disamakan dengan marga di kalangan Tionghoa.

Nama barat berikut ini disertai oleh marga Tionghoa di belakang nama Barat tersebut sesuai dengan kaidah penamaan di Barat yang menempatkan nama keluarga di belakang nama pemberian.

Nama orang Korea, Vietnam dan Jepang juga mendapat pengaruh besar dari nama Tionghoa.

Sampai sekarang nama orang Korea masih terdiri dari 3 karakter suku-kata walau ditulis dalam karakter Hangul. Marga orang Korea adalah bersumber dari marga Tionghoa.

Orang Vietnam sendiri menggunakan nama Tionghoa namun dengan lafal bahasa Viet serta ditulis dengan romanisasi.

Orang Jepang menggunakan nama yang ditulis dengan karakter Han, tetapi mayoritas dengan 4 karakter, 2 karakter marga dan 2 karakter nama.