Singopuran, Kartasura, Sukoharjo

Sedang Trending 5 hari yang lalu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Singopuran (bahasa Jawa: Singapuran) adalah desa di kecamatan Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, Indonesia.

Sejarah Desa[sunting | sunting sumber]

Keberadaaan Desa Singopuran tidak dapat dilepaskan dari masa kerajaan Mataram. Akibat pemberontakan Trunojoyo yang meruntuhkan istana Mataram di Keraton Plered, maka Amangkurat I beserta keluarganya melarikan diri kearah barat termasuk putranya yaitu Raden Mas Rahmat. Dalam pelarian tersebut akhirnya Amangkurat I meninggal dunia di Banyumas dan dimakamkan di Tegalarum. Namun sebelumnya ia telah mengangkat Raden Mas Rahmat menjadi putra mahkota dan naik takhta sebagai Amangkurat II. Amangkurat II kemudian mendirikan istana baru di bekas hutan Wanakarta dengan nama Keraton Kartasura. Amangkurat II ini adalah satu-satunya raja yang gemar memakai pakaian admiral, maka sering disebut sebagai Sunan Amral.

Amangkurat II memerintah dari tahun 1688 - 1703. Dalam masa pemerintahannya terjadi banyak pemberontakan-pemberontakan, di antaranya adalah pemberontakan Trunojoyo. Dalam menangani pemberontakan Trunojoyo tersebut, Amangkurat II meminta bantuan kepada VOC/Kumpeni. dengan konsekuensi VOC bebas melakukan perdagangan di wilayah pantai utara. Akhirnya Trunojoyo dapat ditumpas, tetapi kerajaan Mataram menanggung hutang untuk biaya perang yang cukup besar.

Dengan menanggung hutang yang cukup besar, membuat Amangkurat II mau tidak mau bekerja sama dengan VOC, sehingga keputusan-keputusannya sering diintervensi oleh VOC. Hal tersebut membuat beberapa punggawa raja tidak senang dengan hal tersebut, salah satunya adalah Patih Nerangkusuma. Patih Nerangkusuma berusaha memberi masukan kepada Amangkurat II untuk menghindari kerja sama dengan VOC, tetapi tidak dipertimbangkan.

Pada tahun 1685 Patih Nerangkusuma menerima Untung Suropati yang merupakan pemberontak, untuk berlindung di rumahnya. Mengetahui keberadaan salah satu orang yang dicari oleh VOC, maka VOC segera mengirimkan pasukan dibawah komando Kapitan Tack dari Semarang untuk menumpas Untung Suropati. Mengetahui adanya pengiriman pasukan VOC, maka Patih Nerangkusuma bersama Untung Suropati segera menghadap ke Amangkurat II untuk memohon maaf, dan setelah terjadi pembicaraan yang cukup lama maka Amangkurat II memberi maaf kepada Patih Nerangkusuma dan Untung Suropati. Dalam bahasa jawa orang yang memberi maaf adalah SING NGAPURO. Tidak berapa lama Kapitan Tack beserta pasukannya telah sampai di Kartasura, Untung Suropati beserta pengikutnya segera keluar dari keraton Kartasura kearah utara, disuatu tempat tersebut terjadilah perperangan yang cukup sengit dan akhirnya Kapitan Tack dan pasukannya dapat dikalahkan dan dibunuh oleh Untung Suropati. Tempat berlindungnya Untung Suropati dan pengikutnya, serta tempat terbunuhnya Kapitan Tack tersebut adalah SINGOPURAN, berasal dari kata SING APURO. Selain itu bisa juga berarti dari kata "SINGO" dan "PURO" adalah "SINGO" julukan lurah prajurit luar istana dan "PURO" adalah rumah besar, jadi sekiranya artinya adalah "tempat banyak rumah besar dari lurah para prajurit luar istana".

Batas Wilayah Desa[sunting | sunting sumber]

Letak geografi Desa Singopuran, terletak diantara :

  • Sebelah Utara  : Kecamatan Colomadu
  • Sebelah Selatan : Desa Ngadirejo
  • Sebelah Barat  : Desa Ngabeyan
  • Sebelah Timur  : Desa Pabelan

Pembagian Wilayah[sunting | sunting sumber]

Desa Singopuran terdiri dari beberapa dukuh[1]:

  • Notosuman
  • Pringgolayan
  • Purbayan

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Lembaga pendidikan formal yang ada di Desa Singopuran, antara lain:

  • SD Negeri Singopuran 01
  • SD Negeri Singopuran 02
  • SD Negeri Singopuran 03

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

  • (Indonesia) Data Referensi Pendidikan Kecamatan Kartasura Diarsipkan 2022-05-16 di Wayback Machine.